Jumat, 13 Agustus 2010

Cerita Dua Sahabat

‘Ayo nak.... lari lebih cepat! Kau pasti bisa menangkapnya’. Suara ibu lenyap ditelan badai yang mulai bertiup. Musim dingin hampir tiba di Greenland utara. Siang menjadi lebih pendek dan malam-malam semakin panjang. Swarzky berlari pulang dengan tangan hampa. Ia sudah berusaha mengejar, tapi tak berhasil. Ringed seal)* itu lebih dulu terjun ke laut. Ibu tidak marah. ‘Besok harus kau coba lagi. Kau sudah cukup besar sekarang’
‘Apakah ibu ikut denganku?”
‘Tidak. Ibu akan pergi ke teluk di sebelah timur. Kudengar di sana masih ada ringed seal. Kau boleh pergi dengan Johansen’.

Swarzky senang pergi bersama Johansen, sahabat karibnya. Usia mereka tak jauh beda, mungkin hanya terpaut beberapa bulan saja. Johansen tinggal tak jauh dari perkampungan ilmuwan Swedia. Para ilmuwan itulah yang memberi nama sahabatnya itu. Persis nama anak laki-laki di kampung asal mereka, begitu katanya.

)* ringed seal : sejenis anjing laut
Swarzky sendiri tak tau asal usul namanya, mungkin juga dari para pekerja Rusia yang pernah singgah di tempat itu. Ibu tak pernah cerita. Yang pasti para ilmuwan itu orang-orang yang baik hati. Mereka tak pernah mengganggu, bahkan kadang memberi ikan kaleng. Ikan kaleng memang tak seenak ikan segar, apalagi ringed seal. Lagi pula kurang sehat, mengandung pengawet, kata ibu. Tapi tak apa kalau cuma makan sekali-sekali. Terutama kalau ayah tak berhasil menangkap ikan.

Terkenang ia suatu malam di musim panas yang lalu. ‘Sekarang makin sulit mendapatkan ringed seal’, suara ayah berat terdengar. ‘Aku sudah menjelajah sampai ke perkampungan yang paling jauh. Entah kemana mereka pergi’. Akhir-akhir ini dataran es di daerah itu mencair sehingga banyak ringed seal kehilangan tempat tinggal. Bahkan saudara mereka, sepupu Swarzky, juga terpaksa mengungsi entah kemana. Mereka tak pernah lagi memberi kabar. Kata ayah ini karena bumi semakin panas. ‘Semuanya karena ulah manusia. Mereka tidak sadar, kalau daerah ini mencair mereka akan mengalami bencana’. Ibu biasanya menghibur dengan suaranya yang teduh menenangkan hati. ‘Mungkin besok ringed seal itu muncul’, atau, ‘ikan segar lebih baik untuk kesehatan’. Suara ibu yang lembut  menghibur hati Swarzky yang berbaring diam-diam di biliknya. Mengusir rasa lapar akibat tak makan seharian. Dan menghantarnya tertidur dengan mimpi indah, bahwa besok ringed seal itu akan muncul........
Tapi ringed seal itu tak pernah muncul lagi. Bahkan sampai ketika ayah semakin lemah, lalu meninggal karena kekurangan makanan.

Pagi itu ringed seal tidak juga muncul, meski sudah dua jam mereka menuggu di sana, di tempat di mana ia kemarin terlihat.  ‘Apakah kita pulang ke rumah? Mungkin ibu berhasil menangkap ikan’. Tapi kemudian Swarzky ingat, ibu pergi ke teluk di timur. Tempat itu cukup jauh, mungkin lewat siang hari ibu baru kembali. Jadi Johansen mengusulkan untuk pergi ke perkampungan ilmuwan. Siapa tahu mereka berbaik hati memberi ikan kaleng.

Pondok perkampungan ilmuwan tampak di kejauhan, bagai setitik noda di hamparan salju yang luas. Johansen berjalan mendahului. Ia selalu lebih berani. Mungkin karena ia pernah tinggal di sana beberapa waktu. Mereka mengelilingi pondok, mengintip dari jendela kaca yang mengembun. Nah, itu mereka sedang berkumpul. Wajah para ilmuwan itu tampak tegang. Mereka dapat mendengar suara-suara keras. Dan salah satu di antaranya – mungkin pemimpinnya – tampak memukul meja. Swarzky tak mengerti apa yang dibicarakan. Tapi kata Johansen telah terjadi sesuatu. Ada pembunuhan di teluk sebelah timur. Tak jauh dari situ ada kapal pemecah es yang sedang  berlabuh. “Diduga salah seorang awaknya telah menembak mati seekor beruang kutub betina!”.

Teluk di sebelah timur?? Bukankah tadi pagi ibu pergi ke sana? Bagai disengat listrik Swarzky menjerit dan berlari ke arah timur, tak menghiraukan sahabatnya yang berusaha mengejar sambil berteriak memanggil-manggil. Para ilmuwan berhamburan keluar dari dalam pondok, melihat apa yang terjadi. Di kejauhan, dua ekor anak beruang kutub berlari ke arah teluk, dan menghilang di balik garis cakrawala.

--------------------------

This tale reminds you
that we, endangered creature, live in one world
The world belongs to God, The Creator
No matter where we live
or how different we looked or sound
We have the right to be loved, to be nurtured
and to stay exist
( Swarzky & Johansen )




Buletin No.05/2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar